Hikman Iman Kepada Allah
Iman Kepada Allah
Masih berkatitan dengan isi artikel diatas, salah satunya contoh dari hikmah iman kepada allah yaitu dengan caa menimbulkan dekat dengan Allah. Cara tersebut bisa dilakukan saat ibadah di masjid ataupun mushola. Tak lupa juga di mushola tersedia karpet masjid sebagai alat sholat. Jika masjid anda belum tercukupi untuk karpet masjidnya. Kami siap membantu anda untuk mendapatkannya. Karena kami menjual produk Karpet Masjid Makasar dengan haban berkualita dan harganya terjangkau. Apabila anda ingin mengetahui lebih dari produk kami, silahkan kunjungi web kami di www.aladdinkarpet.com
Sumber:
http://wardahcheche.blogspot.com/2014/04/rukun-iman-yang-pertama.html
hikmahdarrukunimanyangpertama.blogspot.com
Rukun iman yang pertama adalah Allah SWT, inilah ajaran paling
pokok yang mendasari seluruh ajaran Islam. inilah yang tersimpul dalam kalimat
tauhid, kalimat tayyibah: La ilaha illallah yang artinya Tiada
Tuhan selain Allah. Ini tertuang dalam dua kalimat syahadat, kunci menuju Islam
sebagai jalan hidupnya. Mengenal Allah SWT dapat ditempuh melakukan dua jalur. Pertama,
dengan menggunakan akal pikiran untuk memeriksa dan memikirkan secara
teliti apa yang diciptakan Allah. Kedua, dengan mengerti nama-nama dan
sifat-sifat-Nya dalam Al-qur’an. Al-qur’an telah mendorong akal pikiran manusia
untuk mengenal Allah dengan mengemukakan ayat-ayat tentang alam yang
menjelaskan segala isi dunia. Dengan pemikiran itu akan tercapailah pengenalan
kepada Allah. Dengan mengenal ciptaan-Nya, manusia akan mengenal kesempurnaan
sifat-sifat-Nya, kebesaran dan keluhuran-Nya, bukti-bukti keperdulian-Nya,
kelengkapan ilmu-Nya, dan kelangsungan kekuasaan-Nya dalam menciptakan.
Tauhid (Zat), Sifat, Af’al, Rububiyah, Uluhiyah, dan Syirik
1. Tauhid (Zat) Allah
Sebenarnya wujudnya Allah itu sudah nyata, bahkan merupakan suatu
hakikat yang tidak perlu lagi diragukan persoalannya dan tidak ada jalan untuk
memungkirinya. Sesungguhnya hakikat dari zat tuhan itu tidak mungkin dapat
diketahui dengan akal pikiran manusia dan tidak dapat dicapai keadaan atau
kenyataan yang sebenarnya. Sebabnya adalah pikiran manusia tidak dapat
menjangkau hal tersebut, sehingga manusia tidak diberi dan tidak ditunjuki cara
menemukannya atau perantara untuk mencapainya. Karena itulah sampai sekarang
ilmu pengetahuan modern belum dapat menguraikan berbagai hakikat benda dan
semua yang ada di alam semesta ini secara memuaskan. Sesunggunya zat Allah itu
masih jauh lebih besar dari apa yang dapat dicapai oleh akal ataupun yang dapat
diliputi oleh pemikiran-pemikiran
Jika manusia dengan akal pikirannya tidak dapat mencapai hakikat
zat Tuhan tidak berarti bahwa zat Allah itu tidak ada, tetapi yang benar adalah
bahwa zat Allah itu ada dengan penetapan sebagai sesuatu yang wajib adanya.
Untuk menjelaskan bahwa wujud Allah itu ada, semua yang ada dilingkungan alam
semesta ini dapat digunakan sebagai bukti nyata tentang wujudnya Tuhan.
2. Tauhid Sifat Allah
Seseorang muslim harus menyadari dan menyakini bahwa Allah Swt itu
maujud yakni ada dan Dia memiliki Asmaul husna (nama-nama yang terbaik) dan
memiliki sifat-sifat yang luhur yang menunjukkan kesempurnaan-Nya yang mutlak.
Yang dimaksud dengan sifat Allah ialah bahwa sifat-sifat Allah tidak sama
dengan sifat-sifat yang lain dan tak seorangpun yang mempunyai sifat
sebagaimana sifat Allah. Sifat-sifat luhur yang dimiliki Allah merupakan
penetapan dan kesempurnaan ketuhanan-Nya serta keagungan Illahi-Nya. Sifat
Allah itu berbeda dengan sifat-sifat manusia yang terbagi-bagi. Kekuasaan Allah
tidak terbagi-bagi, sedangkan kekuasaan manusia adalah terbagi-bagi, demikian
juga sifat-sifat lain yang ada pada manusia pun terbagi-bagi.[6]
Dengan demikian, jelas bahwa segala pikiran yang mempersamakan
sifat Allah dengan sifat makhluk-Nya adalah tidak benar.
3. Tauhid Af’al Allah
Sifat-sifat yang dimiliki Allah Swt ada yang termasuk dalam
sifat-sifat zat dan ada yang termasuk dalam sifat-sifat Af’al (perbuatan).
Sifat-sifat zat yaitu sifat-sifat Subutiah atau sifat-sifat Maknawiah,
yakni sifat hidup, mengetahui, berkuasa, berkehendak, mendengar, melihat dan
berfirman. Adapun sifat-sifat Af’al itu ialah seperti sifat menciptakan dan
member rejeki. Jadi, Allah yang Maha Menciptakan dan Maha Pemberi rejeki Dialah
yang membuat mekhluk ini dan juga yang mengaruniakan rejeki kepada mereka.
Para alim ulama telah sependapat bahwa sifat Af’al bukanlah sifat
zat dan kedudukan sifat Af’al itu adalah sebagai tambahan dari sifat zat itu.
adapun yang dimaksud dengan Tauhid Af’al atau Esa dalam perbuatannya ialah
bahwa alam semesta ini seluruhnya ciptaan Allah, tidak ada bagian-bagian alam
yang diciptakan oleh selain Allah SWT. Tidak ada sekutu bagi-Nya dalam
mencipta, memerintah, dan menguasai kerajaan-Nya.
Arasy, Kursi, Sidratul Muntaha Lauhil dan Mahfudz
- Arsy (Singgasana)
Arsy adalah simbol keagungan dan tepat tajali serta kehususan dzat.
Arsy juga disebut tubuh Hadrah (presensi), namun ia tersucikan dari enam arah
(mata angin). Arsy merupakan pandangan tertinggi, dan tempat termulia yang
meliputi semua ragam Maujudaat (segala yang ada), Arsy dalam wujud mutlak,
seperti Jisim (tubuh) dalam wujud manusia, dengan i’tibar bahwa alam jisim
mencakup, alam ruh, imajinasi, estimasi, logika dan lain sebagainya.
- Kursi
Kursi merupakan symbol dari Taqdir Illahi (ketuhanan), tempat
keluarnya konsesus perintah-perintah dan larangan-larangan-Nya. Kursi juga
tempat lahirnya segala hal yang bersifat parsial dan absurd, sentra kemanfaatan
dan marabahaya, keterkumpulan dan ketercerai-beraian, dari Kursi pula terlihat
bekas-bekas (Atsaar) sifat-sifat yang kontradiktif. Dari Kursi tersiarkan
perintah dan warta ketuhanan kepada segala yang wujud, ia tempat memutuskan
konsesus ketentuan-Nya (qadha’-Nya) sedang Qolan (pena) tempat memutuskan
taqdir-Nya. Kursi merupakan tempat (pusat) pandangan segala sifat-sifat
aktualiatas (perbuatan) al-Haq. Kursi juga merupakan tempat tajali dan simbol ketuhanan,
ia juga merupakan tempat berpijaknya kaki al-Haq, dari Kursi tersebut al-Haq
melakukan Qadha-Nya, tempat mengadakan atau meniadakan, menghancurkan atau
menyelamatkan, member atau menahan, memuliakan atau menistakan segala yang ada,
al-Haq melakukan semua itu melalui wajah Kursi-Nya.
- Sidratul Muntaha
Sidratul Muntaha adalah penghujung (muara) tempat dan puncak
kedudukan, yang bisa dicapai makhluk-Nya dalam meniti jalan Allah, tempat
setelah Sidratul Muntaha adalah khusus untuk al-Haq, tidak ada satupun makhluk
yang bisa menginjakkan kakinya di tempat paska Sidratul Muntaha, karena makhluk
yang melintas melebihi batas Sidratul Muntaha akan lenyap terbakar dan hilang
tak berbekas. Hal ini diisyaratkan Jibril as, yang berkata kepada Muhammad Saw
: “Jika kau melangkah sejengkal lagi, niscaya kau akan terbakar, esensinya
ketika rasul Muhammad Saw berada di Sidratul Muntaha, beliau dilarang melangkah
meski hanya sejengkal, sebab beliau akan terbakar lenyap.
- Lauhul Mahfudz
Lauhul Mahfudz merupakan induk benda pertama (Umm al-Huyuli),
karena benda tidak berbentuk (memiliki rupa) kecuali setelah tertulis di Lauhul
Mahfudz. Ketika benda pertama itu diwacanakan, bentuk (rupa) ditulis oleh Qolam
(pena) tertinggi itulah sejatinya yang disebut Lauhul Mahfudz. Adanya benda
pertama itu sejalan dengan kehendak al-Haq, karenanya dikatakan: Jika benda
pertama itu telah terwacanakan dalam sebuah bentuk (citra), niscaya Sang
pemberi bentuk akan tertampakkan pada citra bentuk tersebut di semesta
alam-Nya, begitu pula ujaran Sang Pemberi bentuk akan tertampakkan, citra
bentuk itu juga mengindikasikan peliputan, sejalan dengan sabda rasulullah
Muhammad Saw yang artinya: “Sesungguhnya adalah hak Allah, mengangkat atau
meletakkan dunia.
Hikmah Iman Kepada Allah
Iman yang telah merasuk ke dalam hati membuahkan kebajikan bagi
pemiliknya. Mereka yang menghayati dan mengalaminya Insya Allah merasakan
kenikmatan lebih besar daripada yang dapat diungkapkan dengan kata-kata. Di
antara buah iman adalah sebagai berikut:
- Membesarkan hati dari rasa takut dan menumbuhkan keberanian
Iman kepada Allah menumbuhkan keberanian dan kebesaran hati. Orang
beriman tidak takut berjuang menegakkan kebenaran dan menjunjung tinggi kalimat
Allah. Jika ia mati dalam perjuangan itu, maka ia yakin memperoleh ridha Allah
Swt. Ia yakin pula bahwa Allah sajalah yang memegang soal hidup dan matinya.
Seseorang akan mati jika Allah telah menghendaki dengan sebab-sebab yang
diketahui Allah saja. Kematian itu pasti datang dan tidak akan dapat dihindarkan.
Cepat atau lambat, orang mukmin tentu pilih mati yang disukai Allah. Allah pun
melarang menyebut “mati” bagi mereka yang gugur di jalan-Nya.
2. Menenangkan hati dan menenteramkan jiwa
Manusia kadang takut dan cemas karena berbagai sebab. Orang beriman
tidak kesal atau berkeluh kesah menghadapi apa yang sedang dialami dan tidak
takut atau cemas menanti masa-masa datang. Ia menutup segala pintu ketakutan.
Seorang mukmin tidak pernah takut dalam arti sesungguhnya, kecuali
kepada Allah. Pandangannya, hatinya, kesadarannya selalu terikat pada Allah.
Orang beriman yakin bahwa rizki ada pada Allah Yang Maha Kaya. Maka ia tidak
terpukau untuk memusatkan segala aktivitasnya untuk rizki. Bertebaran ayat-ayat
Al-Qur’an yang menegaskan jaminan rizkinya.
3. menimbulkan rasa dekat dengan Tuhan
Orang mukmin yakin bahwa Allah senantiasa dekat. Allah Swt, selalu
bersamanya di mana saja ia berada. Karena Allah amat dekat, maka ia merasakan
hubungan yang erat dengan Tuhan. Karena itu pula ia tidak pernah lupa
menyebut-nyebut-Nya (dzikir) dan selalu berbisik keapda-Nya setiap waktu,
dengan menjalankan shalat dan berdoa kepada-Nya. Ia tidak enggan dan bosan
memanggil-Nya, hingga Allah mengaruniakan nikmat hubungan timbal balik yang
menambah akrab dirinya dengan Tuhannya. Tak semua orng merasa dekat dengan
tuhan, padahal Dia amat dekat. Itu antara lain karena ia merasa tidak pernah
mendekati-Nya. Ia menyadari, sering melakukan sesuatu yang tidak disukai Allah
Swt. ia malu dan merasa tidak layak berada di dekat-Nya.
Sungguh, Allah Maha Luas pengampunan-Nya. Dia mengampuni segala
dosa dan kesalahan hamba-Nya asal saja tidak menyekutukan sesuatu dengan-Nya.
Pintu ampunan Allah terbuka luas buat hamba-Nya yang mau memohon ampunan. Dan
ampunan-Nya lebih besar daripada dosa-dosa yang pernah diperbuat hamba-Nya.
Masih berkatitan dengan isi artikel diatas, salah satunya contoh dari hikmah iman kepada allah yaitu dengan caa menimbulkan dekat dengan Allah. Cara tersebut bisa dilakukan saat ibadah di masjid ataupun mushola. Tak lupa juga di mushola tersedia karpet masjid sebagai alat sholat. Jika masjid anda belum tercukupi untuk karpet masjidnya. Kami siap membantu anda untuk mendapatkannya. Karena kami menjual produk Karpet Masjid Makasar dengan haban berkualita dan harganya terjangkau. Apabila anda ingin mengetahui lebih dari produk kami, silahkan kunjungi web kami di www.aladdinkarpet.com
Sumber:
http://wardahcheche.blogspot.com/2014/04/rukun-iman-yang-pertama.html
hikmahdarrukunimanyangpertama.blogspot.com
Komentar
Posting Komentar