Hikman Iman Kepada Allah

Iman Kepada Allah
Rukun iman yang pertama adalah Allah SWT, inilah ajaran paling pokok yang mendasari seluruh ajaran Islam. inilah yang tersimpul dalam kalimat tauhid, kalimat tayyibah: La ilaha illallah yang artinya Tiada Tuhan selain Allah. Ini tertuang dalam dua kalimat syahadat, kunci menuju Islam sebagai jalan hidupnya. Mengenal Allah SWT dapat ditempuh melakukan dua jalur. Pertama, dengan menggunakan akal pikiran untuk memeriksa dan memikirkan secara teliti apa yang diciptakan Allah. Kedua, dengan mengerti nama-nama dan sifat-sifat-Nya dalam Al-qur’an. Al-qur’an telah mendorong akal pikiran manusia untuk mengenal Allah dengan mengemukakan ayat-ayat tentang alam yang menjelaskan segala isi dunia. Dengan pemikiran itu akan tercapailah pengenalan kepada Allah. Dengan mengenal ciptaan-Nya, manusia akan mengenal kesempurnaan sifat-sifat-Nya, kebesaran dan keluhuran-Nya, bukti-bukti keperdulian-Nya, kelengkapan ilmu-Nya, dan kelangsungan kekuasaan-Nya dalam menciptakan.
Tauhid (Zat), Sifat, Af’al, Rububiyah, Uluhiyah, dan Syirik
1. Tauhid (Zat) Allah
Sebenarnya wujudnya Allah itu sudah nyata, bahkan merupakan suatu hakikat yang tidak perlu lagi diragukan persoalannya dan tidak ada jalan untuk memungkirinya. Sesungguhnya hakikat dari zat tuhan itu tidak mungkin dapat diketahui dengan akal pikiran manusia dan tidak dapat dicapai keadaan atau kenyataan yang sebenarnya. Sebabnya adalah pikiran manusia tidak dapat menjangkau hal tersebut, sehingga manusia tidak diberi dan tidak ditunjuki cara menemukannya atau perantara untuk mencapainya. Karena itulah sampai sekarang ilmu pengetahuan modern belum dapat menguraikan berbagai hakikat benda dan semua yang ada di alam semesta ini secara memuaskan. Sesunggunya zat Allah itu masih jauh lebih besar dari apa yang dapat dicapai oleh akal ataupun yang dapat diliputi oleh pemikiran-pemikiran
Jika manusia dengan akal pikirannya tidak dapat mencapai hakikat zat Tuhan tidak berarti bahwa zat Allah itu tidak ada, tetapi yang benar adalah bahwa zat Allah itu ada dengan penetapan sebagai sesuatu yang wajib adanya. Untuk menjelaskan bahwa wujud Allah itu ada, semua yang ada dilingkungan alam semesta ini dapat digunakan sebagai bukti nyata tentang wujudnya Tuhan.
2. Tauhid Sifat Allah
Seseorang muslim harus menyadari dan menyakini bahwa Allah Swt itu maujud yakni ada dan Dia memiliki Asmaul husna (nama-nama yang terbaik) dan memiliki sifat-sifat yang luhur yang menunjukkan kesempurnaan-Nya yang mutlak. Yang dimaksud dengan sifat Allah ialah bahwa sifat-sifat Allah tidak sama dengan sifat-sifat yang lain dan tak seorangpun yang mempunyai sifat sebagaimana sifat Allah. Sifat-sifat luhur yang dimiliki Allah merupakan penetapan dan kesempurnaan ketuhanan-Nya serta keagungan Illahi-Nya. Sifat Allah itu berbeda dengan sifat-sifat manusia yang terbagi-bagi. Kekuasaan Allah tidak terbagi-bagi, sedangkan kekuasaan manusia adalah terbagi-bagi, demikian juga sifat-sifat lain yang ada pada manusia pun terbagi-bagi.[6]
Dengan demikian, jelas bahwa segala pikiran yang mempersamakan sifat Allah dengan sifat makhluk-Nya adalah tidak benar.
3. Tauhid Af’al Allah
                Sifat-sifat yang dimiliki Allah Swt ada yang termasuk dalam sifat-sifat zat dan ada yang termasuk dalam sifat-sifat Af’al (perbuatan). Sifat-sifat zat yaitu sifat-sifat Subutiah atau sifat-sifat Maknawiah, yakni sifat hidup, mengetahui, berkuasa, berkehendak, mendengar, melihat dan berfirman. Adapun sifat-sifat Af’al itu ialah seperti sifat menciptakan dan member rejeki. Jadi, Allah yang Maha Menciptakan dan Maha Pemberi rejeki Dialah yang membuat mekhluk ini dan juga yang mengaruniakan rejeki kepada mereka.
Para alim ulama telah sependapat bahwa sifat Af’al bukanlah sifat zat dan kedudukan sifat Af’al itu adalah sebagai tambahan dari sifat zat itu. adapun yang dimaksud dengan Tauhid Af’al atau Esa dalam perbuatannya ialah bahwa alam semesta ini seluruhnya ciptaan Allah, tidak ada bagian-bagian alam yang diciptakan oleh selain Allah SWT. Tidak ada sekutu bagi-Nya dalam mencipta, memerintah, dan menguasai kerajaan-Nya.
Arasy, Kursi, Sidratul Muntaha Lauhil dan Mahfudz
  1. Arsy (Singgasana)
Arsy adalah simbol keagungan dan tepat tajali serta kehususan dzat. Arsy juga disebut tubuh Hadrah (presensi), namun ia tersucikan dari enam arah (mata angin). Arsy merupakan pandangan tertinggi, dan tempat termulia yang meliputi semua ragam Maujudaat (segala yang ada), Arsy dalam wujud mutlak, seperti Jisim (tubuh) dalam wujud manusia, dengan i’tibar bahwa alam jisim mencakup, alam ruh, imajinasi, estimasi, logika dan lain sebagainya.
  1. Kursi
Kursi merupakan symbol dari Taqdir Illahi (ketuhanan), tempat keluarnya konsesus perintah-perintah dan larangan-larangan-Nya. Kursi juga tempat lahirnya segala hal yang bersifat parsial dan absurd, sentra kemanfaatan dan marabahaya, keterkumpulan dan ketercerai-beraian, dari Kursi pula terlihat bekas-bekas (Atsaar) sifat-sifat yang kontradiktif. Dari Kursi tersiarkan perintah dan warta ketuhanan kepada segala yang wujud, ia tempat memutuskan konsesus ketentuan-Nya (qadha’-Nya) sedang Qolan (pena) tempat memutuskan taqdir-Nya. Kursi merupakan tempat (pusat) pandangan segala sifat-sifat aktualiatas (perbuatan) al-Haq. Kursi juga merupakan tempat tajali dan simbol ketuhanan, ia juga merupakan tempat berpijaknya kaki al-Haq, dari Kursi tersebut al-Haq melakukan Qadha-Nya, tempat mengadakan atau meniadakan, menghancurkan atau menyelamatkan, member atau menahan, memuliakan atau menistakan segala yang ada, al-Haq melakukan semua itu melalui wajah Kursi-Nya.
  1. Sidratul Muntaha
Sidratul Muntaha adalah penghujung (muara) tempat dan puncak kedudukan, yang bisa dicapai makhluk-Nya dalam meniti jalan Allah, tempat setelah Sidratul Muntaha adalah khusus untuk al-Haq, tidak ada satupun makhluk yang bisa menginjakkan kakinya di tempat paska Sidratul Muntaha, karena makhluk yang melintas melebihi batas Sidratul Muntaha akan lenyap terbakar dan hilang tak berbekas. Hal ini diisyaratkan Jibril as, yang berkata kepada Muhammad Saw : “Jika kau melangkah sejengkal lagi, niscaya kau akan terbakar, esensinya ketika rasul Muhammad Saw berada di Sidratul Muntaha, beliau dilarang melangkah meski hanya sejengkal, sebab beliau akan terbakar lenyap.
  1. Lauhul Mahfudz
Lauhul Mahfudz merupakan induk benda pertama (Umm al-Huyuli), karena benda tidak berbentuk (memiliki rupa) kecuali setelah tertulis di Lauhul Mahfudz. Ketika benda pertama itu diwacanakan, bentuk (rupa) ditulis oleh Qolam (pena) tertinggi itulah sejatinya yang disebut Lauhul Mahfudz. Adanya benda pertama itu sejalan dengan kehendak al-Haq, karenanya dikatakan: Jika benda pertama itu telah terwacanakan dalam sebuah bentuk (citra), niscaya Sang pemberi bentuk akan tertampakkan pada citra bentuk tersebut di semesta alam-Nya, begitu pula ujaran Sang Pemberi bentuk akan tertampakkan, citra bentuk itu juga mengindikasikan peliputan, sejalan dengan sabda rasulullah Muhammad Saw yang artinya: “Sesungguhnya adalah hak Allah, mengangkat atau meletakkan dunia.
  Hikmah Iman Kepada Allah
Iman yang telah merasuk ke dalam hati membuahkan kebajikan bagi pemiliknya. Mereka yang menghayati dan mengalaminya Insya Allah merasakan kenikmatan lebih besar daripada yang dapat diungkapkan dengan kata-kata. Di antara buah iman adalah sebagai berikut:
  1. Membesarkan hati dari rasa takut dan menumbuhkan keberanian
Iman kepada Allah menumbuhkan keberanian dan kebesaran hati. Orang beriman tidak takut berjuang menegakkan kebenaran dan menjunjung tinggi kalimat Allah. Jika ia mati dalam perjuangan itu, maka ia yakin memperoleh ridha Allah Swt. Ia yakin pula bahwa Allah sajalah yang memegang soal hidup dan matinya. Seseorang akan mati jika Allah telah menghendaki dengan sebab-sebab yang diketahui Allah saja. Kematian itu pasti datang dan tidak akan dapat dihindarkan. Cepat atau lambat, orang mukmin tentu pilih mati yang disukai Allah. Allah pun melarang menyebut “mati” bagi mereka yang gugur di jalan-Nya.
2. Menenangkan hati dan menenteramkan jiwa           
Manusia kadang takut dan cemas karena berbagai sebab. Orang beriman tidak kesal atau berkeluh kesah menghadapi apa yang sedang dialami dan tidak takut atau cemas menanti masa-masa datang. Ia menutup segala pintu ketakutan.
Seorang mukmin tidak pernah takut dalam arti sesungguhnya, kecuali kepada Allah. Pandangannya, hatinya, kesadarannya selalu terikat pada Allah. Orang beriman yakin bahwa rizki ada pada Allah Yang Maha Kaya. Maka ia tidak terpukau untuk memusatkan segala aktivitasnya untuk rizki. Bertebaran ayat-ayat Al-Qur’an yang menegaskan jaminan rizkinya.
3. menimbulkan rasa dekat dengan Tuhan
Orang mukmin yakin bahwa Allah senantiasa dekat. Allah Swt, selalu bersamanya di mana saja ia berada. Karena Allah amat dekat, maka ia merasakan hubungan yang erat dengan Tuhan. Karena itu pula ia tidak pernah lupa menyebut-nyebut-Nya (dzikir) dan selalu berbisik keapda-Nya setiap waktu, dengan menjalankan shalat dan berdoa kepada-Nya. Ia tidak enggan dan bosan memanggil-Nya, hingga Allah mengaruniakan nikmat hubungan timbal balik yang menambah akrab dirinya dengan Tuhannya. Tak semua orng merasa dekat dengan tuhan, padahal Dia amat dekat. Itu antara lain karena ia merasa tidak pernah mendekati-Nya. Ia menyadari, sering melakukan sesuatu yang tidak disukai Allah Swt. ia malu dan merasa tidak layak berada di dekat-Nya.
Sungguh, Allah Maha Luas pengampunan-Nya. Dia mengampuni segala dosa dan kesalahan hamba-Nya asal saja tidak menyekutukan sesuatu dengan-Nya. Pintu ampunan Allah terbuka luas buat hamba-Nya yang mau memohon ampunan. Dan ampunan-Nya lebih besar daripada dosa-dosa yang pernah diperbuat hamba-Nya.



Masih berkatitan dengan isi artikel diatas, salah satunya contoh dari hikmah iman kepada allah yaitu dengan caa menimbulkan dekat dengan Allah. Cara tersebut bisa dilakukan saat ibadah di masjid ataupun mushola. Tak lupa juga di mushola tersedia karpet masjid sebagai alat sholat. Jika masjid anda belum tercukupi untuk karpet masjidnya. Kami siap membantu anda untuk mendapatkannya. Karena kami menjual produk Karpet Masjid Makasar dengan haban berkualita dan harganya terjangkau. Apabila anda ingin mengetahui lebih dari produk kami, silahkan kunjungi web kami di www.aladdinkarpet.com


Sumber:
 http://wardahcheche.blogspot.com/2014/04/rukun-iman-yang-pertama.html
hikmahdarrukunimanyangpertama.blogspot.com 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengertian, Fungsi dan Penerapan Iman Kepada Kitab Allah